Kisah pas di penginapan di bandung
Pengalaman ini bersetting di salah
satu hotel di Bandung. Hotel ini terkenal angkernya dan sudah sangat tua, sekitar 20 tahun lamanya hotel ini berdiri.
Gw en teman2 gw yang emang nyalinya segede gaban pun tanpa takut2 masuk ke
dalam hotel itu. Mulailah kami melakukan pemesanan kamar. Petugas hotel
terlihat ramah dan seperti manusia. Mereka bernapas selayaknya manusia dan
bepakaian secara manusiawi. Mereka juga menyapa kami dengan bahasa yang
dimengerti oleh telinga kami. Oke, cukup ngibulnya, itu hotel yang masih baru
dan sama sekali tidak ada angker2nya kecuali Anker Beer karena hotel itu memang
menjual bir.
Masuklah kami ke dalam hotel, hmm,
sebut saja namanya Hotel Tel (demi privasi dari hotel itu juga). Disana
terdapat meja resepsionis, tangga, sofa, lampu, lukisan dan, hey, rasanya semua
hotel kurang lebih sama lah. Oke,back to topic, setelah melihat-lihat isi dari
bagian depan hotel (dan tentunya setelah check in), kamipun dipersilahkan masuk
ke kamar hotel. Nomor kamar kami adalah 12A dan 14. Untung bukan 13 ya? Tapi
12A juga mencurigakan karena urutannya 11,12,12A,14,15 dan seterusnya. Aneh?
Ya, sangat aneh. Tapi kami cuek saja dengan itu karena emang ga ada gunanya
diperdebatkan bukan?
Oh iya,
lupa bilang kalo kami semua berjumlah 8 orang dan semuanya sehat dan waras.
Jadi lah tiap kamar ditempati oleh 4 orang. Sejujurnya, kamar itu hanya muat
untuk 2 orang karena memang kami menyewa kamar berukuran kecil. Tetapi demi
hemat ongkos, kamipun rela untuk bersempit-ria di kamar itu. Dapat dibayangkan
bagaimana berantakannya kamar kami yang dihuni oleh manusia-manusia amburadul
alias tidak rapi. Tas berserakan. Kaos-kaos juga entah sudah berada dimana.
Sepatu dan kaos kaki juga dilempar saja di dekat pintu masuk. Intinya, bukan
pemandangan yang bagus.
Untuk
nama teman-teman saya samarkan saja dengan huruf alphabet demi privasi mereka.
Karena kami ber-8 maka urutannya jadi dari saya sebagai “Saya”. Dan sisanya
A,B,C,D,E,F dan G. yang sekamar dengan saya adalah A,B, dan C. Kita langsung
saja ke hidangan, eh inti cerita. Setelah selesai menaruh barang bawaan, kami
pun cabut pergi jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu lalu juga mampir ke
restoran di Bandung dan juga F.O-F.O nya Bandung. Akhirnya setelah jam
menunjukkan angka 10 malam, kami balik ke Hotel Tel. Semua sudah sangat
kelelahan sehingga semua tertidur pulas dengan sukses dan sebagian ngorok
(tidak disebutkan siapa karena demi privasi juga :D)
Nah,
disinilah letak serunya. Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5 pagi, telepon di kamar
yang saya tempati berbunyi. Saya dan si B mendengar dering telepon itu.
Sedangkan A dan C masih pulas dan bersuara dengan mulut mereka (baca:”ngorok”).
Masih dengan mata yang mengantuk, saya dan si B bertukar pandang seolah saling
menyuruh untuk mengangkat telepon. Kemudian si B pun mengangkat telepon itu dan
berikut percakapannya :
B : “Halo”
P (Penelepon) : “Pagi pak, kami dari layanan kamar Hotel
Tel. Bapak mau sarapan pagi seperti apa ya?”
B : “Ada menu apa aja pilihannya?”
P : “Ada 3 pilihan. Yang pertama ada Nasi dan Ayam Kalasan.
Lalu kedua, ada Spagethi dan telur ceplok. Yang ketiga, ada Nasi dan Omelet.
Gimana pak?
B : “Menu yang Nasi dan Ayam Kalasan aja deh. Kalo minumnya
bisa pilih juga?”
P : “Minuman juga ada 3 pilihan pak. Susu, Kopi dan Jus
jeruk.”
B : “Oke, minumnya Susu aja.”
P : “Baik pak, ditunggu ya. 20 menit lagi akan diantar. Terima
kasih.”
Setelah itu telepon pun ditutup. Gw
dan si B balik tidur lagi. 1 jam kemudian gw bangun dan ternyata sarapan belum
juga datang. Setelah ditunggu-tunggu lagi, sarapan pagi yang kami pesan tidak
datang-datang. Lalu gw menelepon ke resepsionis untuk bertanya mengenai sarapan
pagi tersebut. Pihak resepsionis bilang kalau sarapan pagi adanya jam 7 pagi
dan tidak bisa memilih menu sarapan paginya. Dan gw melihat jam, ternyata baru
jam 6.10. Pikiran gw pun merasa aneh. Gw bertanya ke B apa tadi gw dan dia lagi
ngigau? Dia bilang dia pas mengangkat telepon itu lagi sadar koq. Gw dan si B
pun mulai berpikir yang tidak-tidak ketika pintu kamar kami diketok. Si B pun
membuka pintu itu. Dan ternyata itu teman-teman kami, si D dan E yang dari
kamar sebelah. Si E mengeluarkan handphone nya dan menghidupkan rekaman suara,
ya suara percakapan si B dan si penelepon yang tidak lain adalah si D yang
menyamar menjadi pihak layanan hotel. Mereka pun tertawa terbahak-bahak setelah
melihat ekspresi wajah kami yang kaget. Gw dan si B cuma bisa ikut tertawa saja
koq bisa-bisanya kami tertipu oleh mereka. Setelah mandi dan siap2, kami pun
check out dari hotel untuk jalan-jalan dan kemudian balik ke Jakarta.
Pengalaman yang kocak. Pesan moralnya? Well, kalau tinggal di hotel bersama
teman-teman anda, jangan mudah percaya telepon yang masuk karena bisa saja anda
sedang dikerjai teman anda! :D
ok deh :)
BalasHapusGood Idea, tambahin lg yg banyak postingan yg bs bikin ngakak dan hilangin stress gan
BalasHapusService AC Jogja
lumayannn... :D
BalasHapusmampir ke cerita gue juga dong yah..!
http://voolow.blogspot.com/search/label/cerita%20gw
Sipppp.thx ya uda mampir :D
BalasHapus