Kamis, 15 Maret 2012

Uang Bukan Segalanya.



Uang Bukan Segalanya.
Dalam hidup ini, khususnya zaman sekarang yang merupakan era globalisasi dengan segala kesemrawutan persaingan dan kecanggihan teknologinya menyebabkan ada 1 hal yang sepertinya dikejar-kejar semua orang, yaitu UANG. Dimanapun kita berada, yang namanya uang sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat kita hindari. Karena untuk makan harus bayar, untuk membeli barang keperluan juga uang, menonton film di bioskop juga dengan uang, bahkan untuk kencing saja harus bayar! Padahal dengan kencing sebenarnya kita kan ‘menyumbangkan’ air kita. Harusnya kita dibayar kan? :D Just kidding, tidak mungkin ada orang yang mau membayar untuk dikencingi. Haha. Maksud saya disini, segala-galanya harus dengan uang.
Akibat dari uang yang mendominasi tersebut, maka muncul yang namanya korupsi dari pejabat-pejabat pemerintahan dan di perusahaan. Orang menghalalkan segala cara demi memperoleh banyak uang. Bahkan orang-orang yang sudah gelap mata akan uang tersebut rela sikut-sikutan dengan rekan kerja atu bahkan tega menjatuhkan saudaranya sendiri. Orang zaman sekarang terlalu menghamba pada uang. Sampai tidak sadar lagi bahwa banyak hal yang lebih penting ketimbang uang semata.
Mari kita contohkan saja dengan sebuah analogi seorang triliuner. Dia punya uang bertriliun-triliun banyaknya. Dia membeli rumah mewah, mobil mewah, pakaian2 mahal dan sebagainya. Tetapi dia tidak punya sahabat yang benar-benar setia dengannya, semua yang mendekatinya hanya untuk hartanya. Dengan keluarganya juga dia tidak dekat karena dia lebih mementingkan uangnya daripada relasi dengan keluarganya itu. Ini menyebabkan dia merasa terpencil dan kesepian walau punya harta yang melimpah. Dia tidak bahagia. Ibaratnya dia adalah Ikan Mas Koki yang berada pada aquarium yang bagus dan banyak makanan yang melimpah di aquarium itu. Tetapi tidak ada ikan lain dan walau aquarium itu bagus, dia merasa terkurung dan kesepian. Ya, triliuner itu sama saja dengan ikan mas. Dari segi social dia tidak leluasa berinteraksi dengan orang. Karena takut orang-orang yang mendekatinya ingin hartanya saja dan tidak tulus ingin menjadi temannya.
Itulah mengapa jangan mendewakan uang. Bagaimanapun uang itu adalah sebuah sarana dalam melakukan transaksi. Memang tidak bisa dipungkiri, kita perlu uang untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Zaman sekarang, segala kebutuhan harus dibeli (dengan uang), tetapi bukan berarti uang adalah segalanya. Uang juga tidak harus dicari terlalu ekstrim sampai harus menghalalkan segala cara demi mendapatkannya. Hiduplah dengan tentram dan tidak menghamba pada uang / materi. Kita bukan hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama. Pentingkan keluarga dan sahabat anda, bukan harta anda. Dengan begitu, niscaya tidak ada ketakutan dan kekhawatiran dalam diri anda.
Never put money above everything, because there are some thing more important and can’t be bought with money. It is love, friendship & family. Use money as a tool wisely guys!

Kamis, 01 Maret 2012

Hotel Tel



Kisah pas di penginapan di bandung
Pengalaman ini bersetting di salah satu hotel di Bandung. Hotel ini terkenal angkernya dan sudah sangat tua,  sekitar 20 tahun lamanya hotel ini berdiri. Gw en teman2 gw yang emang nyalinya segede gaban pun tanpa takut2 masuk ke dalam hotel itu. Mulailah kami melakukan pemesanan kamar. Petugas hotel terlihat ramah dan seperti manusia. Mereka bernapas selayaknya manusia dan bepakaian secara manusiawi. Mereka juga menyapa kami dengan bahasa yang dimengerti oleh telinga kami. Oke, cukup ngibulnya, itu hotel yang masih baru dan sama sekali tidak ada angker2nya kecuali Anker Beer karena hotel itu memang menjual bir.
Masuklah kami ke dalam hotel, hmm, sebut saja namanya Hotel Tel (demi privasi dari hotel itu juga). Disana terdapat meja resepsionis, tangga, sofa, lampu, lukisan dan, hey, rasanya semua hotel kurang lebih sama lah. Oke,back to topic, setelah melihat-lihat isi dari bagian depan hotel (dan tentunya setelah check in), kamipun dipersilahkan masuk ke kamar hotel. Nomor kamar kami adalah 12A dan 14. Untung bukan 13 ya? Tapi 12A juga mencurigakan karena urutannya 11,12,12A,14,15 dan seterusnya. Aneh? Ya, sangat aneh. Tapi kami cuek saja dengan itu karena emang ga ada gunanya diperdebatkan bukan?
                Oh iya, lupa bilang kalo kami semua berjumlah 8 orang dan semuanya sehat dan waras. Jadi lah tiap kamar ditempati oleh 4 orang. Sejujurnya, kamar itu hanya muat untuk 2 orang karena memang kami menyewa kamar berukuran kecil. Tetapi demi hemat ongkos, kamipun rela untuk bersempit-ria di kamar itu. Dapat dibayangkan bagaimana berantakannya kamar kami yang dihuni oleh manusia-manusia amburadul alias tidak rapi. Tas berserakan. Kaos-kaos juga entah sudah berada dimana. Sepatu dan kaos kaki juga dilempar saja di dekat pintu masuk. Intinya, bukan pemandangan yang bagus.
                Untuk nama teman-teman saya samarkan saja dengan huruf alphabet demi privasi mereka. Karena kami ber-8 maka urutannya jadi dari saya sebagai “Saya”. Dan sisanya A,B,C,D,E,F dan G. yang sekamar dengan saya adalah A,B, dan C. Kita langsung saja ke hidangan, eh inti cerita. Setelah selesai menaruh barang bawaan, kami pun cabut pergi jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu lalu juga mampir ke restoran di Bandung dan juga F.O-F.O nya Bandung. Akhirnya setelah jam menunjukkan angka 10 malam, kami balik ke Hotel Tel. Semua sudah sangat kelelahan sehingga semua tertidur pulas dengan sukses dan sebagian ngorok (tidak disebutkan siapa karena demi privasi juga :D)
                Nah, disinilah letak serunya. Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5 pagi, telepon di kamar yang saya tempati berbunyi. Saya dan si B mendengar dering telepon itu. Sedangkan A dan C masih pulas dan bersuara dengan mulut mereka (baca:”ngorok”). Masih dengan mata yang mengantuk, saya dan si B bertukar pandang seolah saling menyuruh untuk mengangkat telepon. Kemudian si B pun mengangkat telepon itu dan berikut percakapannya :
B : “Halo”
P (Penelepon) : “Pagi pak, kami dari layanan kamar Hotel Tel. Bapak mau sarapan pagi seperti apa ya?”
B : “Ada menu apa aja pilihannya?”
P : “Ada 3 pilihan. Yang pertama ada Nasi dan Ayam Kalasan. Lalu kedua, ada Spagethi dan telur ceplok. Yang ketiga, ada Nasi dan Omelet. Gimana pak?
B : “Menu yang Nasi dan Ayam Kalasan aja deh. Kalo minumnya bisa pilih juga?”
P : “Minuman juga ada 3 pilihan pak. Susu, Kopi dan Jus jeruk.”
B : “Oke, minumnya Susu aja.”
P : “Baik pak, ditunggu ya. 20 menit lagi akan diantar. Terima kasih.”
Setelah itu telepon pun ditutup. Gw dan si B balik tidur lagi. 1 jam kemudian gw bangun dan ternyata sarapan belum juga datang. Setelah ditunggu-tunggu lagi, sarapan pagi yang kami pesan tidak datang-datang. Lalu gw menelepon ke resepsionis untuk bertanya mengenai sarapan pagi tersebut. Pihak resepsionis bilang kalau sarapan pagi adanya jam 7 pagi dan tidak bisa memilih menu sarapan paginya. Dan gw melihat jam, ternyata baru jam 6.10. Pikiran gw pun merasa aneh. Gw bertanya ke B apa tadi gw dan dia lagi ngigau? Dia bilang dia pas mengangkat telepon itu lagi sadar koq. Gw dan si B pun mulai berpikir yang tidak-tidak ketika pintu kamar kami diketok. Si B pun membuka pintu itu. Dan ternyata itu teman-teman kami, si D dan E yang dari kamar sebelah. Si E mengeluarkan handphone nya dan menghidupkan rekaman suara, ya suara percakapan si B dan si penelepon yang tidak lain adalah si D yang menyamar menjadi pihak layanan hotel. Mereka pun tertawa terbahak-bahak setelah melihat ekspresi wajah kami yang kaget. Gw dan si B cuma bisa ikut tertawa saja koq bisa-bisanya kami tertipu oleh mereka. Setelah mandi dan siap2, kami pun check out dari hotel untuk jalan-jalan dan kemudian balik ke Jakarta. Pengalaman yang kocak. Pesan moralnya? Well, kalau tinggal di hotel bersama teman-teman anda, jangan mudah percaya telepon yang masuk karena bisa saja anda sedang dikerjai teman anda! :D