Senin, 16 Juli 2012

Sifat Orang & Posisi dalam Sepakbola



Jika Sifat / Mentalitas orang diibaratkan Posisi dalam Permainan Sepakbola.
Tiap orang punya sifat nya masing-masing, yang menentukan bagaimana mereka bertindak atau merespon hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka. Jika diumpamakan ke dalam permainan sepakbola, maka akan terdapat orang-orang seperti : striker, winger , gelandang, bek dan kiper. Bahkan wasit dan manager juga ada loh. Tentunya saudara2 bingung koq posisi dalam sepakbola bisa dikaitkan sih dengan sifat seseorang? Nah, akan saya jelaskan. 

B.

E.

R.

S.

A.

M.

B.

U.

N.

G.
.
.
.
Bercanda guys. Masa uda dibilang mau dijelasin malah bersambung. Emangnya sinetron? Haha :D
Ok, kita mulai dari posisi Kiper alias penjaga gawang.
Orang yang disebut sebagai si Kiper adalah mereka yang mempunyai sifat protektif dan jaga2 terhadap apa yang mereka miliki. Dalam artian mereka orang yang umumnya cari aman dan enggan untuk mengambil resiko.
Yang kedua, posisi Bek alias pemain bertahan.
Untuk orang yang disebut Bek ini juga punya kemiripan dengan si Kiper karena orang nya juga mencari aman dan menjaga apa yang sudah mereka capai. Bedanya, si Bek terkadang masih berani untuk keluar untuk mencapai sesuatu yang lebih dari sekedar yang dimilikinya.
Ketiga yaitu posisi Gelandang alias pemain tengah.
Mereka-mereka yang disebut sebagai Gelandang ini bukanlah orang-orang yang tidak punya tempat tinggal, eh kalo itu disebut gelandangan ya. Beda2 tipis dari susunan katanya. Orang yang disebut Gelandang adalah orang yang punya sifat cukup berani untuk keluar dari zona nyaman dan berusaha mencapai sesuatu yang lebih lagi tetapi pada saat bersamaan juga masih punya keinginan untuk cari aman terhadap apa yang telah mereka capai. Positifnya dari si Gelandang ini adalah, mereka memiliki Visi untuk mengembangkan hidup mereka agar menjadi lebih baik dan sukses, serta punya Kreatifitas yang membuat mereka dapat menciptakan suatu hal yang belum pernah orang lain lakukan sebelumnya. Si Gelandang dapat dibagi jadi 2 tipe. Jika orang yang disebut si Gelandang itu lebih condong untuk keluar dari zona nyamannya maka ia disebut Gelandang Serang. Sedangkan jika ia lebih suka untuk berjaga2 dan cari aman di zona nyamannya, maka disebut Gelandang Bertahan.
Nah untuk yang keempat adalah Winger alias pemain sayap.
Orang yang disebut sebagai si Sayap ini sekilas mirip dengan si Gelandang. Bedanya jika si Winger punya pemikiran yang cepat dan lebih berani untuk mencari suatu cara dalam mencapai tujuannya. Mereka tidak memiliki Visi dan Kreatifitas yang sehebat Gelandang tetapi mereka adalah tipe orang-orang yang bisa berpetualang dalam hidup. Maksudnya berpetualang ini adalah mereka merupakan orang yang tidak terpaku pada suatu aturan dasar dalam hidup dan lebih fleksibel dalam membuat keputusan hidupnya.
Yang terakhir adalah Striker alias penyerang.
Si Striker ini adalah orang-orang yang punya sifat berani dan tidak takut terhadap resiko. Mereka berani untuk berspekulasi dalam usahanya mencapai tujuan. Mereka tidak pernah puas dengan keadaan mereka saat ini dan selalu mencoba untuk membuat hidupnya lebih baik lagi.
Nah pasti pada tanya kan koq wasit dan manager gak dijelaskan? Baiklah, akan saya jelasin juga. Kasian buat yang penasaran :p
Well, seseorang bisa saja menjadi wasit bagi orang lain. Karena wasit adalah sifat orang yang memantau jalannya suatu hal, seperti misalnya suatu Bisnis. Mereka bisa disebut sebagai supervisor jika dalam suatu perusahaan. Tentu saja, sifat si wasit ini dapat ditemukan pada diri siapa saja selama orang tersebut punya skill/keterampilan yang membuatnya dihormati orang lain.
Sedangkan Manager tim adalah mereka yang mengarahkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat lain tersebut untuk bersama-sama mencapai tujuan. Umumnya si Manager adalah mereka yang menduduki pangkat tertinggi. Mereka bisa dikatakan adalah bos-bos pada suatu perusahaan.

Ya itu lah sifat-sifat orang jika diibaratkan pada posisi di sepakbola. Jika anda ingin sukses dalam hidup, maka disarankan anda memiliki mentalitas dari seorang striker, winger dan gelandang (serang). Tetapi mentalitas dari Bek dan Kiper pun tidak sepenuhnya jelek. Dalam hidup ini kadang juga diperlukan sifat jaga2 dan waspada karena di zaman sekarang ini anda tidak pernah tahu kapan anda bisa diserang dari belakang dan di-counter attack. Lebih utamanya dari itu semua adalah Kerjasama Tim. Sehebat-hebatnya skill Messi dan CR7, mereka tetap memerlukan pemain-pemain lain saat bertanding, karena sepakbola adalah permainan tim. Begitu pun dengan hidup kita ini. Sehebat-hebatnya anda sebagai seorang manusia, anda tetap memerlukan orang lain untuk bisa mencapai kesuksesan. Perlu diingat juga bahwa janganlah bermain kotor/kasar dalam hidup ini. Jika anda sudah mendapat ‘kartu kuning’ maka jadikan itu peringatan agar tidak lagi mengulangi kesalahan anda. Saat anda mendapat ‘kartu merah’ maka anda tahu bahwa anda merugikan diri sendiri dan orang lain. Raihlah ‘Goal’ anda dan bekerjasama lah dengan ‘rekan setim’ anda dalam bertanding dengan semangat sportifitas! Salam Sepakbola!

Kamis, 15 Maret 2012

Uang Bukan Segalanya.



Uang Bukan Segalanya.
Dalam hidup ini, khususnya zaman sekarang yang merupakan era globalisasi dengan segala kesemrawutan persaingan dan kecanggihan teknologinya menyebabkan ada 1 hal yang sepertinya dikejar-kejar semua orang, yaitu UANG. Dimanapun kita berada, yang namanya uang sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat kita hindari. Karena untuk makan harus bayar, untuk membeli barang keperluan juga uang, menonton film di bioskop juga dengan uang, bahkan untuk kencing saja harus bayar! Padahal dengan kencing sebenarnya kita kan ‘menyumbangkan’ air kita. Harusnya kita dibayar kan? :D Just kidding, tidak mungkin ada orang yang mau membayar untuk dikencingi. Haha. Maksud saya disini, segala-galanya harus dengan uang.
Akibat dari uang yang mendominasi tersebut, maka muncul yang namanya korupsi dari pejabat-pejabat pemerintahan dan di perusahaan. Orang menghalalkan segala cara demi memperoleh banyak uang. Bahkan orang-orang yang sudah gelap mata akan uang tersebut rela sikut-sikutan dengan rekan kerja atu bahkan tega menjatuhkan saudaranya sendiri. Orang zaman sekarang terlalu menghamba pada uang. Sampai tidak sadar lagi bahwa banyak hal yang lebih penting ketimbang uang semata.
Mari kita contohkan saja dengan sebuah analogi seorang triliuner. Dia punya uang bertriliun-triliun banyaknya. Dia membeli rumah mewah, mobil mewah, pakaian2 mahal dan sebagainya. Tetapi dia tidak punya sahabat yang benar-benar setia dengannya, semua yang mendekatinya hanya untuk hartanya. Dengan keluarganya juga dia tidak dekat karena dia lebih mementingkan uangnya daripada relasi dengan keluarganya itu. Ini menyebabkan dia merasa terpencil dan kesepian walau punya harta yang melimpah. Dia tidak bahagia. Ibaratnya dia adalah Ikan Mas Koki yang berada pada aquarium yang bagus dan banyak makanan yang melimpah di aquarium itu. Tetapi tidak ada ikan lain dan walau aquarium itu bagus, dia merasa terkurung dan kesepian. Ya, triliuner itu sama saja dengan ikan mas. Dari segi social dia tidak leluasa berinteraksi dengan orang. Karena takut orang-orang yang mendekatinya ingin hartanya saja dan tidak tulus ingin menjadi temannya.
Itulah mengapa jangan mendewakan uang. Bagaimanapun uang itu adalah sebuah sarana dalam melakukan transaksi. Memang tidak bisa dipungkiri, kita perlu uang untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Zaman sekarang, segala kebutuhan harus dibeli (dengan uang), tetapi bukan berarti uang adalah segalanya. Uang juga tidak harus dicari terlalu ekstrim sampai harus menghalalkan segala cara demi mendapatkannya. Hiduplah dengan tentram dan tidak menghamba pada uang / materi. Kita bukan hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk sesama. Pentingkan keluarga dan sahabat anda, bukan harta anda. Dengan begitu, niscaya tidak ada ketakutan dan kekhawatiran dalam diri anda.
Never put money above everything, because there are some thing more important and can’t be bought with money. It is love, friendship & family. Use money as a tool wisely guys!

Kamis, 01 Maret 2012

Hotel Tel



Kisah pas di penginapan di bandung
Pengalaman ini bersetting di salah satu hotel di Bandung. Hotel ini terkenal angkernya dan sudah sangat tua,  sekitar 20 tahun lamanya hotel ini berdiri. Gw en teman2 gw yang emang nyalinya segede gaban pun tanpa takut2 masuk ke dalam hotel itu. Mulailah kami melakukan pemesanan kamar. Petugas hotel terlihat ramah dan seperti manusia. Mereka bernapas selayaknya manusia dan bepakaian secara manusiawi. Mereka juga menyapa kami dengan bahasa yang dimengerti oleh telinga kami. Oke, cukup ngibulnya, itu hotel yang masih baru dan sama sekali tidak ada angker2nya kecuali Anker Beer karena hotel itu memang menjual bir.
Masuklah kami ke dalam hotel, hmm, sebut saja namanya Hotel Tel (demi privasi dari hotel itu juga). Disana terdapat meja resepsionis, tangga, sofa, lampu, lukisan dan, hey, rasanya semua hotel kurang lebih sama lah. Oke,back to topic, setelah melihat-lihat isi dari bagian depan hotel (dan tentunya setelah check in), kamipun dipersilahkan masuk ke kamar hotel. Nomor kamar kami adalah 12A dan 14. Untung bukan 13 ya? Tapi 12A juga mencurigakan karena urutannya 11,12,12A,14,15 dan seterusnya. Aneh? Ya, sangat aneh. Tapi kami cuek saja dengan itu karena emang ga ada gunanya diperdebatkan bukan?
                Oh iya, lupa bilang kalo kami semua berjumlah 8 orang dan semuanya sehat dan waras. Jadi lah tiap kamar ditempati oleh 4 orang. Sejujurnya, kamar itu hanya muat untuk 2 orang karena memang kami menyewa kamar berukuran kecil. Tetapi demi hemat ongkos, kamipun rela untuk bersempit-ria di kamar itu. Dapat dibayangkan bagaimana berantakannya kamar kami yang dihuni oleh manusia-manusia amburadul alias tidak rapi. Tas berserakan. Kaos-kaos juga entah sudah berada dimana. Sepatu dan kaos kaki juga dilempar saja di dekat pintu masuk. Intinya, bukan pemandangan yang bagus.
                Untuk nama teman-teman saya samarkan saja dengan huruf alphabet demi privasi mereka. Karena kami ber-8 maka urutannya jadi dari saya sebagai “Saya”. Dan sisanya A,B,C,D,E,F dan G. yang sekamar dengan saya adalah A,B, dan C. Kita langsung saja ke hidangan, eh inti cerita. Setelah selesai menaruh barang bawaan, kami pun cabut pergi jalan-jalan ke Gunung Tangkuban Perahu lalu juga mampir ke restoran di Bandung dan juga F.O-F.O nya Bandung. Akhirnya setelah jam menunjukkan angka 10 malam, kami balik ke Hotel Tel. Semua sudah sangat kelelahan sehingga semua tertidur pulas dengan sukses dan sebagian ngorok (tidak disebutkan siapa karena demi privasi juga :D)
                Nah, disinilah letak serunya. Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5 pagi, telepon di kamar yang saya tempati berbunyi. Saya dan si B mendengar dering telepon itu. Sedangkan A dan C masih pulas dan bersuara dengan mulut mereka (baca:”ngorok”). Masih dengan mata yang mengantuk, saya dan si B bertukar pandang seolah saling menyuruh untuk mengangkat telepon. Kemudian si B pun mengangkat telepon itu dan berikut percakapannya :
B : “Halo”
P (Penelepon) : “Pagi pak, kami dari layanan kamar Hotel Tel. Bapak mau sarapan pagi seperti apa ya?”
B : “Ada menu apa aja pilihannya?”
P : “Ada 3 pilihan. Yang pertama ada Nasi dan Ayam Kalasan. Lalu kedua, ada Spagethi dan telur ceplok. Yang ketiga, ada Nasi dan Omelet. Gimana pak?
B : “Menu yang Nasi dan Ayam Kalasan aja deh. Kalo minumnya bisa pilih juga?”
P : “Minuman juga ada 3 pilihan pak. Susu, Kopi dan Jus jeruk.”
B : “Oke, minumnya Susu aja.”
P : “Baik pak, ditunggu ya. 20 menit lagi akan diantar. Terima kasih.”
Setelah itu telepon pun ditutup. Gw dan si B balik tidur lagi. 1 jam kemudian gw bangun dan ternyata sarapan belum juga datang. Setelah ditunggu-tunggu lagi, sarapan pagi yang kami pesan tidak datang-datang. Lalu gw menelepon ke resepsionis untuk bertanya mengenai sarapan pagi tersebut. Pihak resepsionis bilang kalau sarapan pagi adanya jam 7 pagi dan tidak bisa memilih menu sarapan paginya. Dan gw melihat jam, ternyata baru jam 6.10. Pikiran gw pun merasa aneh. Gw bertanya ke B apa tadi gw dan dia lagi ngigau? Dia bilang dia pas mengangkat telepon itu lagi sadar koq. Gw dan si B pun mulai berpikir yang tidak-tidak ketika pintu kamar kami diketok. Si B pun membuka pintu itu. Dan ternyata itu teman-teman kami, si D dan E yang dari kamar sebelah. Si E mengeluarkan handphone nya dan menghidupkan rekaman suara, ya suara percakapan si B dan si penelepon yang tidak lain adalah si D yang menyamar menjadi pihak layanan hotel. Mereka pun tertawa terbahak-bahak setelah melihat ekspresi wajah kami yang kaget. Gw dan si B cuma bisa ikut tertawa saja koq bisa-bisanya kami tertipu oleh mereka. Setelah mandi dan siap2, kami pun check out dari hotel untuk jalan-jalan dan kemudian balik ke Jakarta. Pengalaman yang kocak. Pesan moralnya? Well, kalau tinggal di hotel bersama teman-teman anda, jangan mudah percaya telepon yang masuk karena bisa saja anda sedang dikerjai teman anda! :D